Kesehatan rongga mulut merupakan bagian integral dari kesehatan tubuh secara keseluruhan. Kondisi sistemik seseorang dapat memengaruhi kesehatan gigi dan jaringan pendukungnya, serta respons terhadap tindakan perawatan gigi. Sebaliknya, infeksi dan penyakit pada rongga mulut dapat memperburuk kondisi sistemik yang sudah ada, seperti pada penyakit jantung, diabetes, atau gangguan imunitas.
Dalam praktik kedokteran gigi, penting bagi dokter gigi untuk memahami kondisi sistemik pasien melalui anamnesis yang komprehensif, pemeriksaan fisik, serta konsultasi dengan dokter penanggung jawab bila diperlukan. Hal ini bertujuan untuk mencegah komplikasi selama maupun setelah tindakan, dan memastikan keamanan serta keberhasilan terapi.
Berikut pembahasan beberapa penyakit sistemik yang sering berpengaruh terhadap perawatan gigi serta langkah-langkah penanganannya.
1. Diabetes Mellitus
Pengaruh:
- Penyembuhan luka yang lambat.
- Risiko tinggi infeksi, termasuk periodontitis dan abses.
- Gula darah tidak terkontrol meningkatkan komplikasi pasca tindakan.
Penanganan:
- Tindakan dilakukan bila kadar gula darah terkontrol (<200 mg/dL).
- Jadwalkan perawatan pagi hari setelah makan dan pemberian insulin.
- Antibiotik profilaksis bila tindakan invasif.
- Pantau tanda-tanda hipoglikemia dan pastikan pasien tidak dalam keadaan puasa.
2. Penyakit Kardiovaskular (Hipertensi, Penyakit Jantung Koroner, Gagal Jantung)
Pengaruh:
- Risiko krisis hipertensi atau serangan angina akibat stres.
- Beberapa obat menyebabkan mulut kering atau hiperplasia gingiva.
- Risiko endokarditis bakterialis pada pasien tertentu.
Penanganan:
- Periksa tekanan darah sebelum tindakan.
- Gunakan anestesi dengan adrenalin rendah (1:200.000).
- Profilaksis antibiotik pada pasien risiko tinggi endokarditis.
- Tunda perawatan elektif ≤6 bulan pasca serangan jantung.
3. Gangguan Perdarahan dan Penyakit Hematologis
Pengaruh:
- Risiko perdarahan pasca tindakan (Hemofilia, Trombositopenia).
- Risiko infeksi pada pasien leukemia atau anemia berat.
Penanganan:
- Konsultasi dengan dokter spesialis hematologi.
- Koreksi faktor pembekuan atau transfusi trombosit bila perlu.
- Gunakan hemostatik lokal (spons gelatin, asam traneksamat).
- Hindari anestesi blok pada hemofilia.
4. Penyakit Infeksi Menular (Hepatitis B/C, HIV/AIDS, Tuberkulosis)
Pengaruh:
- Risiko penularan silang bagi tenaga medis.
- Penyembuhan luka lambat dan infeksi sekunder mudah terjadi.
- HIV dapat menimbulkan lesi oportunistik di rongga mulut.
Penanganan:
- Terapkan universal precaution (alat pelindung diri lengkap).
- Pastikan kondisi sistemik stabil (CD4 >200/mm³ pada HIV).
- Hindari tindakan elektif bila infeksi aktif.
- Koordinasikan dengan dokter penanggung jawab bila perlu.
5. Penyakit Saraf (Epilepsi, Parkinson, Stroke)
Pengaruh:
- Risiko kejang saat tindakan (epilepsi).
- Tremor dan kesulitan koordinasi menghambat kebersihan mulut.
- Pasien pasca-stroke mungkin mengalami keterbatasan gerak rahang.
Penanganan:
- Lakukan tindakan saat pasien dalam kondisi stabil.
- Hindari pemicu kejang seperti stres atau cahaya terang.
- Pastikan posisi pasien nyaman dan aman.
- Gunakan pelindung gigitan bila perlu.
6. Penyakit Tulang (Osteoporosis, Penggunaan Bisfosfonat)
Pengaruh:
- Terapi bisfosfonat meningkatkan risiko osteonekrosis rahang (BRONJ) setelah ekstraksi gigi.
Penanganan:
- Hindari tindakan bedah bila memungkinkan.
- Jika ekstraksi harus dilakukan, lakukan dengan hati-hati dan konsultasikan dengan dokter.
- Gunakan antibiotik profilaksis dan kontrol infeksi ketat.
7. Penyakit Ginjal Kronis
Pengaruh:
- Gangguan ekskresi obat dan kecenderungan perdarahan.
- Risiko toksisitas obat tertentu (NSAID, aminoglikosida).
- Pasien hemodialisis lebih rentan infeksi.
Penanganan:
- Lakukan tindakan sehari setelah dialisis.
- Sesuaikan dosis obat sesuai fungsi ginjal.
- Hindari obat nefrotoksik.
- Pertimbangkan profilaksis antibiotik.
8. Penyakit Pernapasan (Asma, PPOK)
Pengaruh:
- Risiko bronkospasme saat stres atau terpapar bahan kimia.
- Penggunaan kortikosteroid inhalasi dapat menyebabkan kandidiasis oral.
Penanganan:
- Pastikan pasien membawa inhaler.
- Hindari penggunaan lateks, bau menyengat, dan stres berlebihan.
- Anjurkan pasien berkumur setelah inhalasi steroid.
Kesimpulan
Penyakit sistemik memiliki dampak signifikan terhadap perawatan gigi, baik dari segi keamanan tindakan, risiko komplikasi, maupun keberhasilan terapi. Oleh karena itu, dokter gigi perlu:
- Melakukan anamnesis menyeluruh untuk mengetahui riwayat medis pasien.
- Berkoordinasi dengan dokter penanggung jawab pasien bila ada kondisi khusus.
- Menyesuaikan rencana perawatan, jenis anestesi, obat-obatan, dan waktu tindakan berdasarkan kondisi sistemik pasien.
Dengan pendekatan holistik dan kehati-hatian, komplikasi dapat diminimalkan, dan hasil perawatan gigi dapat optimal tanpa membahayakan kondisi umum pasien.
Daftar Pustaka
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2020). Pedoman Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut pada Pasien dengan Penyakit Sistemik. Jakarta: Kemenkes RI.
Little, J. W., Falace, D. A., Miller, C. S., & Rhodus, N. L. (2018). Dental Management of the Medically Compromised Patient (9th ed.). St. Louis: Elsevier.
Greenberg, M. S., & Glick, M. (2019). Burket’s Oral Medicine (13th ed.). Shelton: PMPH USA.
Newman, M. G., Takei, H. H., Klokkevold, P. R., & Carranza, F. A. (2019). Carranza’s Clinical Periodontology (13th ed.). St. Louis: Elsevier.
Malamed, S. F. (2020). Medical Emergencies in the Dental Office (8th ed.). St. Louis: Elsevier.