Cabut Gigi Atas Bikin Buta, Benarkah?

Kekhawatiran bahwa pencabutan gigi atas (maksila) dapat menyebabkan kebutaan cukup sering muncul di masyarakat. Padahal, berdasarkan ilmu anatomi, kedokteran gigi, dan oftalmologi modern, pencabutan gigi tidak menyebabkan kebutaan.

Untuk memahami mengapa mitos ini muncul, kita perlu melihat hubungan anatomi antara gigi, saraf wajah, dan mata.

1. Kenapa Orang Mengira Cabut Gigi Bisa Menyebabkan Buta?

Mitos ini biasanya muncul karena:

A. Saraf gigi dan saraf mata “berhubungan” di wajah

Benar bahwa saraf yang mempersarafi gigi (n. trigeminus / saraf kranial V) memiliki cabang yang juga memberi sensasi pada kelopak mata dan daerah sekitar mata. Namun:

  • Cabang ke gigi berasal dari n. alveolar superior (cabang V2)
  • Saraf penglihatan berasal dari n. optikus (saraf kranial II)

Dua saraf ini berbeda total fungsi dan jalurnya.
Kerusakan saraf gigi tidak dapat membuat saraf optik rusak.

B. Nyeri setelah cabut gigi dapat menjalar ke daerah mata

Rasa nyeri “menjalar” ke:

  • pipi,
  • tulang atas,
  • pelipis,
  • atau area sekitar mata.

Hal ini adalah fenomena referred pain, bukan indikasi kerusakan saraf mata.

C. Infeksi berat pada sinus (sangat jarang)

Pada kasus infeksi parah yang tidak diobati, misalnya sinusitis odontogenik atau abses yang meluas ke rongga mata (orbital cellulitis), penglihatan bisa terganggu. Namun kondisi ini:

  • bukan akibat cabut gigi,
  • tetapi akibat infeksi yang terlambat ditangani.

Cabut gigi justru biasanya menghilangkan sumber infeksi, bukan menyebabkan buta.

2. Kajian Anatomi: Mengapa Cabut Gigi Tidak Bisa Menyebabkan Buta

Untuk menyebabkan kebutaan, struktur yang harus rusak adalah:

  • Saraf optik (CN II)
  • Retina
  • Pusat penglihatan di otak

Sedangkan pencabutan gigi hanya melibatkan:

  • tulang alveolar maksila,
  • saraf alveolar superior,
  • jaringan periodontal.

Tidak ada jalur anatomis langsung atau tidak langsung dari gigi menuju saraf optik.

3. Komplikasi Nyata dari Cabut Gigi Atas (Yang Bukan Kebutaan)

Komplikasi pencabutan gigi atas yang mungkin terjadi meliputi:

  • Perdarahan ringan
  • Pembengkakan
  • Dry socket
  • Perforasi sinus maksila (pada gigi molar atas tertentu yang akarnya dekat sinus)

Semua komplikasi ini tidak berhubungan dengan fungsi penglihatan.

4. Kesimpulan

Cabut gigi atas TIDAK menyebabkan kebutaan.
Mitos tersebut muncul karena kesalahpahaman tentang anatomi wajah, nyeri menjalar, dan pengalaman infeksi berat yang tidak terkait prosedur pencabutan.

Selama prosedur dilakukan oleh dokter gigi, pencabutan gigi adalah aman dan tidak berisiko terhadap penglihatan Anda.

Daftar Pustaka

  1. Malamed, S. F. (2019). Sedation: A Guide to Patient Management (6th ed.). Mosby.
  2. Hupp, J. R., Ferneini, E. M., & Ellis, E. (2019). Contemporary Oral and Maxillofacial Surgery (7th ed.). Elsevier.
  3. Ten Cate, A. R. (2017). Oral Histology: Development, Structure, and Function (9th ed.). Elsevier.
  4. Standring, S. (Ed.). (2021). Gray’s Anatomy: The Anatomical Basis of Clinical Practice (42nd ed.). Elsevier.
  5. Brook, I. (2016). “Microbiology and Management of Sinusitis.” Journal of Oral and Maxillofacial Surgery, 74(5), 1077–1085.
  6. Patel, N. A., et al. (2013). “Orbital Cellulitis: Etiology, Diagnosis, and Management.” Current Infectious Disease Reports, 15(5), 442–446